Artikel Best Seller : Renungan Tentang Agama, Kitab Suci, Politik dan Tuhan (Edisi Terbaru)

Pengantar
Siapa tidak risau membaca koran Kompas 14 Maret 2007 yang menyatakan bahwa hasil survei PERC menempatkan Filipina (negara dengan mayoritas umat Katolik terbesar) dan Indonesia (negara dengan mayoritas umat Islam terbesar) menjadi juara satu dan juara dua dalam hal korupsi ; artinya kedua negara ini adalah negara paling korup di Asia ditahun 2007 ; pada tahun lalu (2006) – Indonesia adalah negara paling korup di Asia. Siapa tidak risau melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia. Ada berbagai agama besar dengan umatnya yang besar (terutama Islam), namun kasih sayang, ketentraman, kesejahteraan, kebenaran dan keadilan malah nyaris tidak ada. Atau justru sebaliknya, kekerasan, kerusuhan, pembunuhan, ketidak adilan, kriminalitas, keterbelakangan, kemiskinan, ketidak jujuran, kemunafikan, korupsi, kolusi, dan berbagai pelanggaran HAM justru marak terjadi di Indonesia; dan seringkali mencapai index prestasi nomor wahid didunia. Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. Lalu, apanya yang salah? Dan sadarkah bangsa Indonesia, bahwa kalau di tahun 1960an (era perang dingin) Indonesia dijadikan ajang pertempuran kapitalisme lawan komunisme, maka pada saat ini (2007) sedang dijadikan ajang pertempuran budaya Timur Tengah lawan budaya Barat (persis seperti yang diramalkan sejarahwan dunia Samuel Huntington : clash of civilization di abad 21)? Inilah nasib bangsa yang tak pernah dapat mandiri, hanya terombang-ambing dan jadi lapangan sepakbola ideologi besar. Bila diselidiki secara teliti, peran agama ternyata sangat dalam terhadap pola pikir dan budaya suatu bangsa. Berikut ini adalah butir2 analisis yang mendalam tentang Tuhan, Agama, Budaya dan Bangsa yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber untuk mengatasi kerisauan diatas.

Dalil 1
Tuhan itu tidak beragama, jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia. Agama adalah sarana penting untuk mengenalkan Tuhan, namun Tuhan sendiri tidak beragama, sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama – sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia, sebagaimana samudera diciptakan untuk berjenis-jenis ikan, dan sebagaimana bumi diciptakan untuk berbagai tanaman.
Dalil 2.
Pencapaian puncak pemahaman agama adalah religiositas, demikian kata orang bijak. Salah satu definisi umum tentang religiositas adalah: sikap hatinurani, batin dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas jauh lebih bermakna daripada sekedar beragama, sebab banyak orang beragama justru sering tidak takwa dan munafik (agama sekedar topeng). Ibarat kuliah, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Kalau baru taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan identitas2 universitasnya; ia suka petentang-petenteng menyombongkan jaket almamaternya. Kalau seorang sarjana yang sudah bekerja masih tersekat oleh kotak2 almaternya, dan setiap kekantor pakai jaket almamaternya, betapa kantor itu akan menjadi ajang sikut2an antar universitas, dan betapa menyedihkan jiwa orang itu (yang terbelenggu oleh almamaternya)! Kalau seorang mahasiswa sudah lulus dan mendapatkan pengetahuan dan keahlian tentang ilmu pertanian, maka ia terus melanjutkan pengetahuannya, seringkali diluar almamaternya. Ibarat kuliah, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya. Demikian pula agama, intisari agama yaitu Tuhan dengan sifat dasar Nya (“Maha Adil, Pengasih dan Penyayang”) menjadi lebih penting daripada agama itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak dominan lagi (agama bagaikan tempat pertama kali belajar mengenal Tuhan menurut versi agama itu, dan kelak agama menjadi seperti almamater saja). Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang amat sangat penting. Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama. Religiositas dapat diperoleh melalui agama atau tanpa melalui agama, ia dapat diperoleh terutama dari pengalaman hidup. Agama yang baik diharapkan menghasilkan manusia yang religius, sekaligus cerdas dan selalu ingin lebih tahu lebih banyak lagi tentang hal yang baru (termasuk pengetahuan tentang Tuhan yang baru). Manusia religius tidak akan terbelenggu oleh agama, maka ia tidak takut berdoa di rumah ibadah apapun (sesuai caranya sendiri), entah itu mesjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, dst.; sebab ia paham bahwa Tuhan tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu dan pemahaman akan Tuhan adalah proses belajar yang tak akan pernah selesai. Manusia religius juga akan selalu tertarik dan mengikuti perkembangan agama2 baru serta science yang baru.
Dalil 3.
Agama berbasis kitab suci yang sangat terbatas. Dengan demikian, agama mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta isinya pun tidak akan bisa memuat. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar atau Maha Tak TERBATAS; mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas (Allah, milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS (para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari minus tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus tak terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun) adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga (milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Tuhan! Jadi, ke “Mahabesaran Tuhan” tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku setebal/setipis kitab suci. Ke “Mahabesaran Tuhan” juga tercermin pada luas dan dalamnya ilmu pengetahuan.
Dalil 4.
Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai.
Banyak orang bijak juga berkata: pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak akan pernah selesai ; maka bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya sebagai sumber agama yang dicari; dan bukan kitab suci yang sangat terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran atau Tuhan yang selalu dicari. Kitab suci beserta para nabinya adalah sangat terbatas seperti ditandaskan oleh dalil diatas. Sebagai gambaran KETAKTERBATASKAN (KEMAHABESARAN) TUHAN : Seorang ahli komputer merumuskan suatu hukum yang disebut hukum Moore; ia menyatakan bahwa setiap delapan belas bulan akan terjadi lompatan teknologi dibidang teknologi informasi. Ia benar, ternyata komputer berkembang dari XT, AT, …., Pentium 4; demikian pula software: dari DOS, Windows 98, …, Windows Vista. Manusia pun terus berkembang, dari jaman batu s/d jaman ini yang ditandai teknologi informasi dan rekayasa genetika. Ilmu Fisika tidak hanya berhenti pada hukum gravitasi Newton, melainkan terus berkembang misalnya teori relativitas Einstein, teori big bang, teori fusi, cloning, nano technology, dst. Buku ensiklopedi yang berjilid-jilid dan tebal sekali, setiap tahun harus di update mengingat hampir setiap hari ada penemuan baru di laboratorium riset di seantero dunia. Kalau ilmu pengetahuan, komputer berikut softwarenya, dan ensiklopedi beserta manusia penciptanya saja berkembang terus menerus dan secara cepat, apalagi Tuhan YME! Oleh sebab itu, Tuhan beserta kebenaranNya adalah dinamis, bukan statis, serta lebih banyak bergerak mengacu ke masa depan, dan tidak terlampau sering menoleh kebelakang; dengan demikian Tuhan adalah bukan milik atau dominasi sesuatu agama (yang seolah-olah hanya berbasis sesaat dimasa lampau), melainkan milik ruang dan waktu yang tidak terbatas dan tidak terhingga! Maka diperlukan lebih dari jutaan nabi dan ilmuwan untuk menguak rahasia Tuhan beserta alam semestaNya. Agama yang baik akan selalu ingin mencari tahu rahasia Tuhan yang belum terkuak. Sebaliknya agama yang statis-kaku-beku terus-menerus membelenggu, membatasi atau melecehkan Tuhan dengan mengatakan: untuk mempelajari dan menghapalkan ke Maha Besaran Tuhan yang Tak Terbataskan, cukup melalui satu buku tipis saja yang disebut kitab suci; Tuhan itu cukup PC XT titik (statis) bukan Pentium 5 beserta penerusnya (Pentium X, Core dua, dinamis, tak tahu s/d seri berapa nanti), Tuhan itu cukup DOS bukan Windows Vista, Tuhan itu cukup jaman dulu dan tidak punya masa depan! Jadi, ibarat ilmu komputer, oleh agamawan yang statis-beku-kaku, kita bagaikan diminta untuk terus menerus menggunakan komputer XT dengan DOS, dan dilarang mempelajari atau menggunakan komputer Pentium 5 dengan WINDOWS VISTA atau LINUX ! Ibarat ilmu Fisika, kita bagaikan diminta untuk terus menerus mempelajari hukum Newton, dan dilarang mempelajari fisika modern (temuan2 baru misal Einstein, teori Quantum, teori reaksi fusi, dst). Bagi dogma yang beku, fisika adalah terbatas pada Newton, nabi adalah terbatas pada Muhammad (atau Yesus, atau Budha, dst), kitab suci adalah hanya terbatas pada Qouran (atau Injil, dst), agama adalah hanya terbatas pada kitab suci tertentu – misal Qouran (atau Injil), dan akhirnya Tuhan (yang semestinya tak terbatas) adalah menjadi terbatas pada agama Islam (atau agama yang lain, misal Kristen). Kita lalu bagaikan terusmenerus disuruh menoleh kebelakang dan tidak diperkenankan melihat kedepan! Seandainya Tuhan menurunkan nabi2 baru, dapat dipastikan bahwa agama2 besar yang ada (status quo) akan menolak menerima nabi baru ini agar kedudukan para penguasa agama status quo ini tidak tergoyahkan, sehingga dapat dipastikan akan muncul agama2 yang baru pula demi menampung nabi baru. Jadi, agama yang kaku-beku-statis justru membatasi Tuhan dan membatasi sesama manusia (tersekat-sekat atas nama agama), agama lalu berbalik justru menjadi penjara bagi Tuhan dan manusia, sungguh luar biasa ! Akibatnya agama justru dapat menjadi sumber krisis kebudayaan bahkan perseteruan ; perseteruan tidak hanya antar agama melainkan antar sekte dalam agama ; bukti menyatakan hampir semua agama terpecah belah menjadi sekte-sekte (aliran) ; di Islam ada Suni – Syiah, di Kristen ada Katolik – Protestan, dst. Inilah kesalahan atau dosa terbesar para pemimpin agama yang bagaikan telah membekukan Tuhan kedalam satu kitab suci saja! Agamawan kolot memandang dan mempelajari Tuhan cukup berbekal jaman dulu, Tuhan seolah-olah divonis tidak punya masa depan! Agama yang negatip hanya berkutat pada nabi2nya yang sudah dahulu kala, dan menganggap pemahaman terhadap Tuhan sudah dianggap selesai, kemudian nabi utamanya begitu dibesar-besarkan seringkali melebihi Tuhan itu sendiri; sehingga agama menjadi Maha Tak Terbatas (mengenal Tuhan cukup dengan belajar satu agama saja), sedangkan Tuhan menjadi Maha Terbatas (cukup dijelaskan oleh satu kitab suci setebal kurang lebih 1000 halaman); pusat ibadat dan puja-puji lalu diarahkan kepada nabi2nya. Umat beragama lalu malas membaca hal2 yang baru terutama science, sehingga menjadi terbelakang dalam berbagai segi kebudayaan. Agama ditilik dari sisi organisasi dapat berbeda tujuan dengan kitab suci sumber agama itu sendiri. Kitab suci sudah menandaskan dan menyadari keterbatasan dirinya (buku setipis itu), dan KETIDAK terbatasan Tuhan; sedangkan agama dilihat dari sisi organisasi, terus menerus mengatakan “Pelajaran tentang Tuhan sudah selesai, yaitu Kitab suci KITA, jadi jangan membaca kitab suci yang LAIN, apalagi pindah agama, tetaplah taat-setia kepada agamamu (=KAMI, para pengurus organisasi agama)”.
Dalil 5.
Tuhan itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter.
Tuhan tidak melarang manusia untuk tidak beragama, karena Tuhan sendiri pada dasarnya tidak beragama. Tuhan mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai sarana seperti agama, “agama lokal” (misal Kejawen), dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama nampak pada keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang berbagai hal yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak emas dinegara yang majemuk/pluralis ; baru saja lahir seorang bayi sudah diinisiasi menjadi penganut agama tertentu, sebaliknya ada pula agama yang mengancam dengan hukuman mati bagi manusia dewasa yang pindah keyakinan ; bukankah agama itu kebebasan dan urusan individu dengan kaliknya (privasi) ? Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut dipakai dalam adu gagasan! Tuhan itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping, larang-melarang, dan otoriter. Jadi seseorang yang cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan peradaban. Memang, ada kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi, kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di Eropa pada sekitar abad 18 an. Politisasi, monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh pemuka agama menyebabkan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara berkembang. Demikian pula, adalah tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi, rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama manasaja seringkali memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing dengan kebenaran yang lain yang lebih modern; umatnya pun selalu di brain wash dengan mengatakan bahwa keyakinan tidak boleh diperdebatkan; atau untuk mengunci terjadinya perdebatan lalu berkilah: keyakinanmu adalah keyakinanmu, keyakinanku adalah keyakinanku, keyakinan adalah harga mutlak (kebenaran absolut)! Bukankah ini semua demi kelanggengan kedudukan para pemuka agama itu sendiri dan agar umatnya tidak terpikat oleh pengetahuan baru tentang Tuhan? Bukankah umat yang besar jumlahnya sering dikonotasikan dengan income (zakat/persembahan) yang besar pula bagi para pemuka agama? Mengapa Tuhan Yang Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Tuhan diangap takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Bukankah guru yang baik menyukai muridnya yang sangat kritis, bukan yang diam seribu bahasa dan hanya dapat menganggu-angguk saja ? Pemuka agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Tuhan bahwa Tuhan tidak suka debat, keyakinan adalah harga mati – atau sesuatu yang beku, kaku dan statis, buku2 yang sangat kritis terhadap agama (dan penyalah gunaan agama) dilarang bahkan disweeping, aliran kepercayaan yang baru dan lebih modern dimatikan, sering penganutnya diburu-buru dengan ancaman kekerasan bahkan pembunuhan; dengan demikian kelompok ini sebenarnya justru menganggap Tuhan adalah sangat lemah, sehingga agama dan Tuhan perlu dibela mati2an. Mereka ini sebenarnya justru sedang memenjarakan Tuhan!
Dalil 6.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh sebab itu sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa (disekolah dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan agama. Agama adalah persoalan individu/privacy dan merupakan kebebasan untuk memilih. Agama sebagai pengajaran (knowledge) adalah penting dan perlu diajarkan (misalnya keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan kepada manusia dewasa, waktu belum dewasa cukup diberikan budi pekerti. Kalau sejak kecil sudah dicuci otak dengan agama, maka hasilnya mirip Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih sayang melainkan kecurigaan, ‘keterkotakan’ (SARA), tidak pandai/biasa berdebat, kalau debat cepat marah, sulit menerima kekalahan, beku, kaku dan bahkan ini bisa menjadi cikal-bakal kekerasan nanti disaat dewasa. Dinegara modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst., agama memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD/SMP/SMA (sekolah negeri) sebagai pendidikan (kecuali sekolah yang berafiliasi dengan agama tertentu), namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge) yang mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya diperbolehkan, pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak, yang lebih baik dan lebih penting adalah budi pekerti (hubungan horisontal-antar sesama manusia, jadih lebih riel; agama: hubungan vertikal dengan Tuhan, lebih abstrak). Untuk remaja s/d mahasiswa, sangat penting tuk diberikan pembinaan kepribadian (personality), leadership, dan enterpreneurship. Budi pekerti mengajarkan sopan-santun, taat hukum, menghargai alam dan isinya, keadilan dan hidup bersosial secara baik. Budi pekerti mengarah ke horisontal, riil dan praktis. Agama mengarah vertikal (sorga, neraka) dengan konsep yang penuh abstraksi tinggi. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu, para pemuka agama hendaknya mengasihani para anak2 dengan tidak membebani otak mereka dengan pengetahuan yang belum saatnya (abstraksi yang sulit); dan yang lebih penting dan mendasar adalah: agama syarat dengan dogma2 yang beku-kaku, bila diajarkan secara kurang tepat dan bijak justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2 akan mulai terkotak-kotak sejak dini, hal ini akan menimbulkan dan menyuburkan falsafah: right or wrong for my religion, yang pada akhirnya akan menghasilkan kelompok fundamentalis yang merupakan salah satu bahan awal dari terorisme! Selain itu, mereka menjadi kurang kritis, pasif, tidak pandai debat, dan kalau debat mudah marah (apalagi kalau kalah)! Adalah lebih bijaksana apabila manusia dewasa dibiarkan memilih agamanya sendiri , tanpa paksaan, setelah dewasa!
Dalil 7.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; bahkan kadang2 agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu negara melalui persepsi yang salah, serta kadang2 justru menjadi sumber kemunafikan. Dalam konteks Indonesia, lihat saja, ada berbagai agama besar di Indonesia, namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru tidak ada; yang marak justru kekerasan, kerusuhan, KKN dan pelanggaran HAM. Para elit (militer, politik dan birokrat), yang notabene berpendidikan tinggi justru merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas rajin korupsi namun bebas dan terhormat, yang dibawah: begitu menangkap pencuri ayam langsung dibakar begitu saja! Demikian pula yang terjadi dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil), Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan, Afganistan, dst. TKW kita di Timur Tengah yang sering mengalami penyiksaan dan perkosaan juga dapat menjadi salah satu bukti nyata (frekwensi perkosaan tertinggi). Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya, dalam hal ini, agama seolah-olah menekankan dan mengeksploitasi sifat Tuhan yang hanya sebatas Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun; sifat Maha AdilNya sengaja dihilangkan/dilupakan. Misalnya saja keyakinan bahwa apapun atau berapapun berat dosanya jika: -percaya Yesus dosanya akan diampuni dan masuk surga (agama Nasrani); atau – jika berpuasa secara benar atau meninggal di Mekah atau malam Laitul Kadar (malam seribu bulan dimana surga akan terbuka penuh) maka dosa satu tahun akan diampuni dan masuk surga. Dengan konsep mengobral harga “surga” semurah dan semudah itu, agama2 saling bersaing dan berupaya menarik minat calon pemeluk. Namun akibatnya justru negatip, tidak heran bila negara2 dengan agama yang kuat (tapi beku pemahaman) justru menjadi sumber KKN dan pelanggaran HAM kelas wahid! Agama justru dapat menjadi sumber krisis etika dan moral! Kembali ke konteks Indonesia yang sedang mengalami polusi hirukpikuk-hingarbingar doa dan dakwah, ternyata telah terjadi penyimpangan dan keanehan luar biasa ; manusia Indonesia mengukur keberhasilan atau kesuksesan seseorang sebatas kekayaan, jabatan dan kekuasaan, itupun tanpa mempersoalkan bagaimana (proses) cara mencapainya, jadi serba materi dan duniawi, samasekali tidak mengandung nilai religius seperti : kejujuran, kebaikan, kebenaran, dan kepandaian. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila orang baik dan jujur justru tidak dihargai dan tersisih ! Yang pandai, baik dan jujur cepat2 angkat koper kerja ke luar negeri (brain drain) ! Sebagai contoh kongkrit perilaku kemunafikan para agamawan dibumi nusantara, para koruptor kelas kakap (dan mantan koruptor), yang tinggal diperumahan-perumahan elit/eksklusip, adalah donatur penting bagi kegiatan sosial atau keagamaan; pemuka agama dan masyarakat disekitarnya tidak pernah mempertanyakan darimana para pejabat tinggi negara itu mempunyai dana lebih; atau justru sebaliknya, para koruptor ini dijadikan teladan kedermawanan lalu disanjung-sanjung! Demikian pula, melalui acara televisi, etika dan moral generasi muda terus-menerus dirusak setiap harinya: TV kita hanya memperlihatkan dan mementingkan wajah-wajah yang cantik, bagus, rupawan, seksi dan kayaraya, darimana dan bagimana asal kekayaan itu diperoleh tidak pernah digubris, tidak pernah ditayangkan adanya pejabat yang korup, polisi yang busuk, dan jaksa yang kolusi, melalui film2 di TV: Indonesia bak surga karena negara dipenuhi oleh manusia2 rupawan yang kayaraya, agamis, jadi negara seolah-olah bersih dari KKN dan pelanggaran HAM! Seharusnya sifat Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia (pejabat) berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum pelaku KKN dan pelanggar HAM dimuka hukum. Jadi sebelum hukum horisontal (antar sesama manusia) terlunaskan/termaafkan, maka oknum tsb. tidak akan mungkin masuk surga (hukum vertikal). Perlu dimengerti bahwa bagi manusia dibumi (bukan diawang-awang), sikap Maha Adil adalah jauh lebih menarik dan lebih penting daripada Maha Pengasih. Maha Adil mempunyai dampak horisontal dan bersifat komunal dengan harapan terjadi keadilan di bumi. Maha Pengasih lebih berkonotasi vertikal dan pribadi dengan harapan terjadinya pengampunan dosa pribadi/individu agar dapat masuk surga. Ulama, pastor, begawan, biksu dan pendeta harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga harus dipertanggung jawabkan dahulu didepan manusia (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal melainkan horisontalpun penting (sifat Maha Adil itu lebih mengarah ke horisontal atau sesama manusia dan ini penting sekali)! Mereka harus rajin ke DPR/DPRD, Kejagung, presiden, dst., dalam hal membela kebenaran/moral, tanpa harus berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran! Mereka, para agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang gigih membela manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah Hafidz dan Dita Sari, atau pria ceking-kecil bernama Munir, atau George Aditjondro yang bersedia disebut anjing pelacak kekayaan Indonesia yang dicuri oleh regim ORBA, dimana mereka semua itu tidak takut mengorbankan keamanan, kenyamanan bahkan hidupnya! Mana ada ulama, pastur, pendeta atau biksu, yang turun tangan membela tukang becak, penjual asongan, buruh, tki/tkw, dst., secara nyata? Mana ada dari mereka yang menuntut tuntasnya kasus BLBI (perampokan negara), tragedi Mei ‘98, Trisakti, Priok, Kudatuli, KKN, uang hibah haram, pelurusan sejarah 1965, korban cucu-cicit PKI, membela buruh dan TKI/TKW, pembunuhan Munir, dst.? Bukankah ini tugas Tuhan yang maha penting dan didepan mata ? Bukankah pemimpin agama adalah personifikasi kebenaran, keadilan dan kejujuran ? Mengapa mereka enggan terlibat pada hal2 yang riil ini dan memilih kegiatan ceramah agama sampai mulutnya berbuih-buih dan umatnya menjadi mabok/mendem agama ? Sebaliknya, pandanglah negara RRC yang komunis, yang justru menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; koruptor kelas kakap diburu s/d liang kuburnya dan kalau ketangkap dengan tegas diadili kemudian ditembak mati. Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali hanya terjadi pada para birokrat (pemimpin/pengurus) agama itu sendiri (karena zakat/derma). Penegakan disertai ketaatan hukum (legal formal) lebih menjamin tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat, bila dibandingkan dengan buaian agama yang memabokan. Jadi, jelas dan terang sekali bahwa suatu negara yang didominasi agama yang mengobral surga dengan murah sekali (mengeksploitasi sifat Maha Pengasih), dan mengesampingkan sifat Maha Adil, akan terjebak pada suatu kondisi kemunafikan yang pada akhirnya akan menuju krisis moral dan krisis kebudayaan ; agama lalu menjadi sekedar tempat persembunyian yang ternyaman dan paling aman bagi para pelaku KKN dan pelanggar HAM kelas berat. Koran Kompas 14 Maret 2007 membuktikan pendapat bahwa agama justru sumber kemunafikan, kesimpulan hasil survei PERC menempatkan Filipina (negara dengan mayoritas umat Katolik terbesar) dan Indonesia (negara dengan mayoritas umat Islam terbesar) menjadi juara satu dan juara dua dalam hal korupsi ; artinya kedua negara ini adalah negara paling korup di Asia ditahun 2007. Pada tahun lalu (2006), Indonesia adalah negara paling korup di Asia.
Dalil 8.
Agama Harus Menghormati dan Mengembangkan Budaya Setempat.
Semua agama besar di Indonesia berasal dari luar negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi budaya lokal. Dalam konteks Indonesia, alangkah sedihnya kita, apabila di jalan Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba … (Budha, bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam ….. (Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang menyahut Syallom …. (Kristen, bhs. Yahudi), tak ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng …. (Hindu, bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan nasionalis: Selamat Siang. Demikian pula dengan budaya berpakaian, alangkah sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak boleh mengorbankan budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah penjiplakan cara berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi itu “setan” yang harus dijauhi, dan justifikasi kekerasan demi pembelaan agama melalui konsep yang salah : “right or wrong for my religion” (sisi “wrong” sangat berbahaya bagi kesehatan hatinurani). Agama yang baik semestinya dapat berperan untuk mempengaruhi kebudayaan suatu suku atau bangsa kearah yang lebih baik. Alm. Mochtar Lubis dalam bukunya yang best seller di tahun 1977 (judul: Manusia Indonesia Baru) mengkritisi secara habis-habisan budaya negatip manusia Jawa (sang mayoritas) yang: munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhyul/mistis, berkarakter lemah, suka KKN, suka serba instan, pelupa, tidak tahu malu, cuek, dst. Dalam konteks negara, agama yang baik semestinya bisa menghapus atau menipiskan kelemahan budaya suatu bangsa. Namun sayang, di Indonesia, peran agama justru kebalikannya, terbukti bangsa ini tidak bisa melepaskan diri dari sumber dari segala sumber krisis yaitu krisis moral dan kebudayaan (krisis multi dimensi)! Bayangkan bila nalar kita tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang (utang) luar negeri yang bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata uang yang jauh dari keadilan telah menjajah kita, konglomerasi perusahaan multi nasional dan budaya asing yang lewat agama telah mendominasi budaya kita, lalu kita mau jadi bangsa apa? Adalah sayang sekali, bila kebanyakan agama yang ada justru meninabobokan kemudian secara halus-terselamur menggusur kebudayaan kita, bukankah ini justru gerilya kebudayaan lewat agama?
Dalil 9.
Agama mudah diperalat dan dipolitisasi.
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonomi maupun agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus persen kepada Tuhan melalui agama disalah gunakan oleh ‘manusia cerdas tapi jahat’. Politisasi agama menyebabkan antara Agama dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara filsafati yang suci bersih dan politik yang hitam kelam bercampur baur. Antara bau kentut dan bau parfum sudah saling mengkontaminasi. Umat beragama bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Tuhan atau orasi politik yang ulung dari seorang Dai, atau apakah ia sedang ada di mesjid/gereja atau sedang ada di kantor partai politik? Dalam konteks Indonesia, misalnya Dai sejuta umat – Zainudin MZ, yang dipakai regim ORBA untuk Safari Ramadhan. Agama di negara berkembang yang miskin dan terbelakang seringkali dijadikan cita2 negara (visi) oleh para politisi demi menghimpun kekuatan massa atau melawan negara asing ; sebagai contoh : Osama Bin Laden menggunakan Islam dalam melawan USA/Barat, Soeharto memperalat Islam dalam membasmi PKI di tahun 1965 dan dalam membelokan/menaklukan ‘reformasi’di tahun 1998. Agama juga sering dipergunakan untuk mengalihkan perhatian dan tuntutan keadilan dari rakyat kecil . Tindakan pemerintah yang salah dan fatal yang mengakibatkan penderitaan bahkan ketidakadilan pada masyarakat, sering ditutupi dengan agama melalui ayat2 kitab suci. Dalam konteks Indonesia, misalnya ulama dibeli untuk menguasai dan menenangkan massa, misalnya dengan ceramah: ‘’Penderitaan adalah bagian dari proses beragama, jadi tidak perlu menuntut kepada para pelanggar’’, atau ‘’Mengalah saja, nanti dapat hadiah surga setelah mati’’, atau islah (perdamaian atas dasar agama); semuanya ini dengan tujuan untuk menghibur dan membenarkan penderitaan rakyat, sekaligus untuk membela dan membenarkan policy pejabat tinggi yang salah, serta untuk mengalihkan perhatian dan melemahkan tuntutan masyarakat. Melalui politisasi ayat2 suci, maka rakyat yang menuntut keadilan secara halus sekali justru disalahkan melalui hiburan palsu, dan secara terselubung pejabat pemerintah yang salah (sangat korup) justru dilindungi. Agama juga sering diperalat untuk menutupi ketidak mampuan dirinya dalam beradaptasi. Sebagai contoh : ketidak mampuan suatu negara dengan mayoritas agama tertentu dalam hal berprestasi, misal dalam hal pemberantasan korupsi, berdemokrasi, dan pengadilan bagi pelanggar HAM berat. Para agamawan yang juga politisi sering kali lalu mengacu negara lain yang mampu berprestasi baik (misal negara yang justru komunis seperti RRC) dengan gaya bahasa menipu : ‘’Semangat negara RRC itulah yang justru Islami atau Kristiani, negara kita belum sampai kesana’’ ! Atau dengan gaya kambing hitam atau strategi ‘Buruk muka cermin dibelah’, misalnya melalui ungkapan :’ Semunya ini pengaruh kebudayaan asing, semuanya ini karena teori asing, semuanya ini karena X, …, semuanya ini karena Z’. Suatu ungkapan apologetik yang menyesatkan dan membodohi umat apabila terus-menerus dipakai untuk menutupi ketidak mampuan suatu agama dalam mengatasi/menembus hambatan dalam dirinya sendiri. Semua tipu-menipu berbasis agama ini dapat menjadikan semangat dan moral bangsa untuk menegakan keadilan menjadi melemah dan mati, dan agama justru menjadi sumber kemunafikan.
Dalil 10.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Seperti dijelaskan dalil didepan, bahwa agama sering dipakai untuk memenjarakan Tuhan dan manusia, maka demikian pula dengan ilmu pengetahuan, agama sering disalah gunakan untuk menjadi penjara bagi IPTEK ! Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu sering menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat pernyataan yang dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang dikucilkan antara lain adalah Copernicus, Galileo, Columbus, dan Darwin. Pada abad itu ketika agama Katholik begitu dominan (namun beku, kaku dan statis), Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Sekarang, lihatlah perbedaan antara negara Amerika Latin (yang dominan agamanya) dan USA serta Kanada (yang dominan religiositasnya dan ilmuwannya). Sangat kontras sekali, misalnya saja antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat modern, makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal mereka sama2 pendatang dari Eropa. Negara-negara Islam juga sama saja, katakan saja Turki, Bosnia, Albania adalah negara2 Islam paling modern, ternyata masih jauh tertinggal dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK, demokrasi dan kemakmuran. Selama pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme agama, bukan religiositas), maka selama itu pula negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama. Kita juga dibuat tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC, mereka maju pesat, misal sudah dapat mengirim astronot ke ruang angkasa, lihat pula negara kita yang dibanjiri otomotif produk mereka dengan harga yang sangat murah (harga serbu : serba lima ribu, sebab di RRC hampir tidak ada KKN). Dalam konteks Indonesia, berapa ribu jam belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk “menghapal” hal yang belum saatnya dipelajari (agama beserta bahasa asing dan budayanya)? Bukankah anak2 itu ibarat di “brain washing” sehingga daya kreativitas dan daya saing mereka untuk tingkat dunia menjadi rendah sekali. Karena cara mengajarnya yang kebanyakan doktriner, akibatnya para siswa menjadi kaku, pasip, tidak kreatip, tidak bisa debat, gampang marah kalau debat, dan tersekat-sekat. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Selain itu, setamat SD, kita masih harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris, lalu kapan SDM kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam pendidikan (porsi agama terlampau banyak)?
Dalil 11.
Semakin rusak moral bangsa itu, agama semakin laku, dan hingarbingar kemunafikan beragama semakin luar biasa. Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok ditulisi: Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini; dst… Dinegara maju yang masyarakatnya sudah mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan aturan kasar semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah tertulis dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui pendidikan budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, dalam konteks Indonesia, semakin bumi nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan hingar bingar tentang agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan masjid, koor gereja, dsb.), kemudian orang2nya semakin gemar memakai atau memajang aksesori keagamaan (seringkali hanya untuk “sekedar sembunyi”), semakin menandakan bahwa masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa dan sekedar bosa-basi agama (formalitas), namun tidak pandai melaksanakan ajaran agama. Siang maling atau korupsi, malam berdoa atau meditasi; para pegawai negeri yang mengaku abdi negara dan abdi masyarakat justru mempraktekan filosufi:”Mengapa harus dipermudah, kalau semuanya bisa dipersulit (agar keluar uangnya)?”. Agama sangat menjejukan dan memberikan rasa tentram dan kedamaian yang luar biasa terutama kepada para pelaku kelas berat: pelanggar HAM dan pelaku KKN. Agama memberikan citra bahwa Tuhan itu Maha Pengampun bagi para pelanggar HAM dan pelaku KKN (Maha Adil sengaja dilupakan!). Tidak heran agama menjadi tempat persembunyian yang ternikmat dan teraman bagi para pelanggar aturan ini, tidak heran agama menjadi laku keras sekali dinegara yang amburadul moralitasnya! Hidup secara munafik diakhir hayat dengan bertopeng agama (sudah tua baru berlagak tobat) sangat digandrungi manusia irasional dan justru dipopulerkan oleh para agamawan. Tidak heran, keamburadulan negara itu tetap tidak akan tertolong oleh maraknya agama. Coba amati, ucapan dan tindakan bangsa ini ternyata sangat kontras bedanya, alias hipokrit/munafik; nampak jelas bahwa semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Tuhan, semakin rusak moral bangsa itu. Lihatlah kelihaian para politisi tua regim Orde Baru dalam ber “agama” serta terutama dalam hal ‘memperalat’ agama, kemudian lihatlah “track record” mereka. Alhamdulilah, seratus delapan puluh derajat bedanya! Dengan demikian, dapat kita katakan, apa yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan agama, apalagi pengamalan agama! Pelecehan agama sama saja dengan pelecehan Tuhan, ini akan menyebabkan kehancuran moral suatu bangsa dan murka Tuhan!
Dalil 12.
Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin, bodoh dan selalu dibodohi.
Ada pedoman hidup yang klasik dan bagus: “Kenyang dulu baru ber falsafah” ; atau teori Maslow menandaskan bahwa manusia baru berusaha meningkatkan kualitas religiositasnya setelah kebutuhan dasar (sandang, pangan, dan papan) terpenuhi. Jadi manusia hidup demi jiwa raganya. Sebaik-baiknya ajaran agama, namun apabila perut (raga) umatnya kosong, yang terjadi adalah justru kriminalitas: kerusuhan dan kekerasan. Obat kemerosotan moral suatu negara tidak hanya cukup mengobati jiwa melalui agama, melainkan juga mengobati raga melalui kecukupan sandang, pangan dan papan. Oleh sebab itu, agama perlu berperan aktip dalam meniadakan sumber-segala penderitaan raga dulu seperti sumber kemiskinan, terutama kemiskinan struktural yang disengaja dan dibiarkan terjadi berkelanjutan oleh para politisi busuk; misalnya: gaji yang tidak layak dan tidak adil. Dalam konteks Indonesia, Dirut BUMN terima 50 juta, Dirut BI bergaji 200 juta, Dirut bank Mandiri bergaji 250 juta; sedangkan buruh/pns terendah terima 0,5 juta per bulan; rasio gaji yang luar biasa edan 1:500! Sistim penggajian, fasilitas dan tunjangan yang jauh berbeda antar jabatan dalam satu departemen, antar departemen dan antar BUMN menjadikan sistem gaji di Indonesia bagaikan hutan belantara (mungkin terburuk didunia), telah menjadikan gap kekayaan yang luar biasa dan menjadikan sumber ketidak adilan dan sumber KKN. Selain kemiskinan, kebodohan akan mengakibatkan kesempitan berfikir, kesempitan berfikir dapat disalah gunakan oleh pemuka agama yang berjiwa preman, hasil utama didikannya adalah kefanatikan, kefanatikan (mengklaim paling suci dan paling berhak atas surga!) akan mengakibatkan radikalism agama yang pada akhirnya akan menghasilkan terorisme! Kebodohan akan tumbuh subur seiring dengan rendahnya anggaran pendidikan nasional/lokal, rendahnya gaji guru/dosen, serta mahalnya biaya sekolah (ini dapat disebut kebodohan struktural, sebab disengaja oleh para politisi). Kemiskinan dan kebodohan menyebabkan mudahnya umat untuk di cuci otak oleh pemuka agama preman, misalnya untuk melaksanakan: jihad (dalam agama Islam, yang dapat berbentuk bom bunuh diri, sekaligus melakukan pembunuhan masal); sedangkan di agama Nasrani adalah bunuh diri secara masal/ramai2; semuanya ini dilakukan dengan dalih masuk surga!
Dalil 13
Agama beserta kitab sucinya dapat membuat kebudayaan suatu bangsa/negara menjadi mundur akibat mabok/mendem agama. Definisi mabok atau mendem (Jawa) adalah keadaan dimana seseorang mengkonsumsi/memahami tentang sesuatu/paham yang melebihi batas normal/kewajaran; orang yang mendem menjadi seperti: tidak normal tingkah lakunya, tidak wajar cara berpikirnya (bloon, tidak cerdas), dan sulit diajak berdiskusi/berdialog. Contoh mabok adalah mabok minuman keras dan mendem gadung (di Jawa). Analog definisi ini, maka mabok agama dapat didefinsikan sebagai orang (atau kumpulan orang) yang mengkonsumsi/memahami agama secara berlebihan, melupakan keterbatasan agama, melupakan penyalah gunaan agama yang lumrah terjadi (terutama politisasi agama), dan menganggap bahwa semua persoalan dunia dapat diatasi hanya dengan agama saja. Dalam konteks Indonesia, seorang ahli filsafat dari Belanda, Karl Steinbrick, dosen tamu di IAIN di Jakarta, menyatakan bahwa Indonesia sedang mendem/mabok agama (too much religion contents). Kondisi mabok agama bila tidak terkendali akan mengarah ke keracunan agama. Agama bagaikan obat, bila dikonsumsi berlebihan justru akan menjadi racun bagi tubuh. Eropa pernah mengalami mabok dan keracunan agama diabad yang silam sehingga mengalami kemunduran dan jaman kegelapan; sampai2 filsuf Marx, saking marahnya, menyebut agama itu candu atau bahkan racun. Kitab suci yang oleh nabinya sudah ditandaskan dan didefinisikan bersifat terbatas dan tipis justru dibalik menjadi tak terbatas, maka sering terjadi hal yang menggelikan dan boleh dikata ‘gila’ serta irasional ketika ada upaya meng-agamakan ilmu pengetahuan, misalnya saja Kristenisasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan. Konspirasi jahat antar agamawan dan ilmuwan yang tidak normal (waras, mendem agama) untuk agamisasi ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara mengada-ada dan merekayasa hubungan antara ilmu pengetahuan dengan ayat2 suci dalam kita suci. Misalnya saja, rahasia nuklir telah diramalkan diayat nomor x, teori relativitas sudah ada di ayat y, teori ekonomi H telah diramalkan oleh ayat z, dst. Perlu dicatat bahwa hampir 95% para ilmuwan pemenang hadiah Nobel adalah manusia religius yang tidak peduli lagi dengan agama! Upaya kristenisasi ataupun islamisasi (dst.) ilmu pengetahuan harus dipandang sebagai ketidakwarasan agamawan beserta ilmuwan itu! Dan kegilaan ini harus ditentang karena akan menjadikan ilmu pengetahuan beserta ilmuwan dibawah kendali para ulama/agamawan yang tidak waras. Satu hal lagi yang sangat penting dan membahayakan kesehatan bangsa adalah bila suatu agama dipakai untuk menentang suatu kebudayaan secara membabibuta. Dalam konteks Indonesia, yang saat ini sedang menjadi ajang pertempuran hebat antara budaya Timur Tengah lawan budaya Barat, terasa adanya kecendrungan untuk melawan semua teori Barat yang rasional-empiris dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus siap dan waspada untuk dibanjiri oleh teori2 ilmiah baru (buku2 baru) berbasis kitab suci dari ahli2 Timur Tengah atau dari sarjana lokal yang mendem agama dengan logika dan nalar yang sangat terbatas. Mabok agama bagi seseorang dipastikan terjadi apabila seseorang mengalami brain washing semenjak kecil hingga dewasa (jam pendidikan agama over dosis). Ciri2 suatu negara dalam kondisi mabok agama adalah : agamawan (ulama, pastur, pendeta, dst) menjadi rebutan partai politik, peran agamawan luar biasa dalam politik, parpol berbasis agama menjamur, semboyan hidup demi agama di nomor satukan, porsi siaran agama di TV dan radio lebih dari lima persen (dari total 24 jam) per hari, disetiap pameran buku – buku2 agama mendominasi isi pameran (lebih dari 50%), politikus merasa tidak afdol/Pede bila tidak menyinggung ayat2 suci-agama-Tuhan dalam pidatonya, tidak dapat membedakan agama dan kebudayaan asing tempat agama itu berasal – sehingga tingkahlaku-bahasa-seni-budaya mau ditiru/dijiplak semuanya, adanya negara asing yang menginginkan membuat Indonesia menjadi bonekanya melalui agama dan kebudayaannya, serta ada kecendrungan tuk membawa negara menjadi berbasis agama tertentu. Mendem/mabok agama menjadikan suatu negara tertinggal jauh dengan negara lain, dalam konteks Indonesia – terlihat ada unsur asing agar bangsa ini mabok agama, agar negara asing tetap bisa menguasai natural resourcesnya dan agar Indonesia tidak dapat berkembang menjadi negara industri yang maju yang bisa menjadi pesaing hebat bagi negara asing tersebut.
Dalil 14
Pemimpin sesuatu agama berikut pengikutnya sering kali memandang agama lain atau non agama sebagai tidak baik, seolah-olah hanya merekalah yang hidup tersuci didunia, hanya mereka yang baik lainnya jahat, hanya merekalah yang memiliki Tuhan dan kunci surga. Kondisi terburuk adalah apabila suatu agama memandang agama lain/non agama sebagai musuh Tuhan dengan berbagai istilah negatip seperti kafir dan ateis. Pandangan stereo tipe dan tipikal semacam ini apabila terusmenerus dicekokan (brain washing) sejak kecil akan sangat membahayakan ketentraman dan kenyamanan dunia, sebab manusia akan terkotak-kotak menjadi kelompok kami, kita dan mereka. Dunia bagaikan hendak mereka tanami melulu dengan pohon pisang saja, mereka tidak mau kenal pohon lain seperti appel, mangga, anggur, durian, dst. Agama lalu boleh dikatakan menjadi sumber prejudice (syak wasangka) yang ditanamkan sejak kecil, sehingga sejak kanak-kanak, seolah-olah orang tua tertentu sudah menanamkan perasaan ini pada anak-anak mereka melalui ajakan untuk tidak bermain atau bersahabat dengan kelompok anak-anak yang lain sebab beragama lain. Paham ‘kami dan mereka’ yang ditanamkan sejak kecil akan sangat merugikan pondasi kesatuan dan kebersamaan suatu bangsa, pluralisme menjadi terancam.
Dalil 15
Kegiatan keagamaan (kumpul-kumpul pendalaman, dakwah dan penghayatan keagamaan) yang terlalu sering (misal seminggu lebih dari 2 kali) tanpa diimbangi kegiatan rasio/ilmiah atau kegiatan kumpul2 dengan agama/keyakinan lain, hanya akan mempertebal syak prasangka terhadap kelompok lain dan menumpulkan rasio. Apalagi kalau dalam kumpul2 tsb. pekerjaannya hanya menghakimi keyakinan lain. Manusia modern lebih menyukai berkarya/bekerja daripada kumpul tuk mengobrol tentang kejelekan manusia/keyakinan lain. Di negara berkembang, dimana kumpul2 keagamaan jauh lebih sering terjadi daripada kumpul2 ilmiah/seminar/bisnis, ditengarai justru meningkatkan retaknya masyarakat atas dasar SARA!
Dalil 16
Manusia modern yang cerdas-kritis-bijak tidak lagi tertarik, apalagi terpaku, pada suatu agama tertentu. Mereka bukannya anti agama, apalagi anti Tuhan, tidak! Mereka hanya tidak ingin rasio dan rohaninya dipenjarakan oleh agamawan, mereka juga justru merasa sangat risi dan risau melihat kaum agamawan membelenggu, memenjarakan, bahkan mempermainkan Tuhan demi kepentingan duniawi semata yang sering dibungkus dengan ‘kertas kado yang mengatasnamakan’ Tuhan. Para manusia cerdas-bijak memahami bahwa Tuhan adalah sesuatu yang maha abstrak dan sulit, tidak ada perbandingan dan tidak ada kata yang memungkinkan melukiskan hal Itu. Dan hal yang tidak dapat dipikirkan, tidak bisa dibicarakan. Dan tentang hal yang tidak bisa dibicarakan tentang hal itu, lebih baik tutup mulut, kata Wittgenstein – seorang filsuf kelas dunia yang ternama. Mengingat kata bijak ini, tidak heran para manusia cerdas-bijak di negara modern lebih rajin dan lebih suka melakukan penelitian yang luar biasa dalamnya untuk mengungkapkan rahasia Tuhan beserta kebenaranNya, sehingga mereka menemukan kloning, genetika, genome, nano technology, artificial intelligence, wire less, dst., dan mereka tidak tertarik untuk hanya terusmenerus mempelajari Tuhan yang abstrak hanya sebatas kitab suci saja. Ini kebalikan dengan negara berkembang, yang suka mistik dan misteri, apalagi yang sedang mabok agama, udara negara ini dipenuhi oleh polusi hingarbingar-hirukpikuk doa, nyanyian bahkan sumpah serapah yang isinya kental sekali dengan kata2 kutipan dari ayat2 suci dan kata ‘Tuhan’, namun miskin tindakan, dan sekedar NATO : No Action Talk Only, malas kerja, ingin cepat kaya, alias munafik ! Memang bagi negara dengan tingkat budaya masih sebatas malas bekerja dan malas berpikir, agama seringkali menjadi tempat pelarian dan persembunyian. Selain itu, para manusia cerdas-bijak menyadari kata ‘change’, atau perubahan atau beradaptasi, yang merupakan watak yang dimiliki oleh alam semesta berikut manusianya ; hidup adalah perubahan, manajemen adalah perubahan, agama adalah perubahan, maka yang tidak mau berubah untuk menjadi lebih baik akan menjadi tertinggal dan menjadi beban bagi lainnya ; sebaliknya agamawan kaku bersama kitab sucinya bagaikan alergi atau bahkan antipati dengan kata ‘change’.

Penutup
Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom, cendekiawan maupun pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar bumi dan isinya dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Mencintai, menyayangi, dan mengikuti Sang Guru : Krishna, Budha, Muhammad, Yesus, Dalai Lama, Yosef Smith, dsb., jangan sampai menjadikan manusia justru membatasi, membelenggu dan memenjarakan Tuhan Yang Maha Tak Terbatas serta membatasi sesamanya! Pemahaman akan Tuhan belum selesai dan tidak pernah akan selesai. Oleh sebab itu, janganlah kita menghina Tuhan dengan mereduksi/memperkecil kemahabesaran Nya menjadi hanya satu buku yang sangat tipis sekali yang disebut kitab suci. Singkat kata: “kitab suci semua agama sangat terbatas, Tuhan maha tidak terbatas”. Agama masih diperlukan, namun belajar agama harus sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang sudah mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna) suatu ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti pada agama tertentu untuk terus mencari Sang Kebenaran! Dan ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak tersekat-sekat lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama namun mempunyai religiositas yang tinggi/dalam, sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja, dilingkungan apa saja, sebab Tuhan akan selalu menyertai dia! Manusia religius tidak akan pernah: membatasi Tuhan sebatas agamanya, membatasi sesamanya atas dasar agamanya; sebab Tuhan adalah milik semua orang, baik yang beragama maupun yang tidak beragama – sebagaimana matahari diciptakan untuk semua manusia, sebagaimana samudera diciptakan untuk trilyunan ikan. Tuhan juga bukan hanya masa lampau (ribuan tahun yang lalu, saat hidup para nabi), melainkan lebih mengarah ke masa depan (milyaran tahun lagi). Jadi, yang membedakan antara manusia religius dan manusia agamis yang berpandangan sempit adalah : yang satu ingin membebaskan Tuhan (dan manusia) dari belenggu agama beserta kitab sucinya, sebaliknya yang lain justru ingin memenjarakan Tuhan (dan manusia) kedalam satu buku tipis-edisi lama yang disebut kitab suci ! Bila manusia memiliki pandangan hidup seperti dalil-dalil diatas, niscaya tidak akan ada lagi radikalisme, intoleransi, fanatisme dan terorisme berbasis agama!

Sayang sekali, fakta sejarah mengisyaratkan bahwa agama dapat dan sering dimutlakan, dipolitisasi dan diperalat oleh para penguasa, dengan demikian agama lalu justru menjadi sumber berbagai krisis seperti etika, moral dan kebudayaan ; bahkan seringkali menjadi sumber ketidak harmonisan, pertikaian, kerusuhan, pembunuhan, malahan pertempuran antar manusia! Di musim perang dingin (1960an) Indonesia dijadikan ajang pertempuran kapitalisme lawan komunisme (USA versus Rusia); dan saat ini (2007) pertempuran budaya Timur Tengah lawan budaya Barat sedang terjadi dengan luar biasa hebatnya di bumi Nusantara, inilah nasib bangsa yang tak pernah dapat mandiri, hanya terombang-ambing dan hanya menjadi lapangan sepakbola (ajang pertempuran) ideologi besar dunia.

Disamping itu, sayang seribu kali sayang, kebebasan beragama di Indonesia termasuk semu, sebab agama2 baru, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, dilarang masuk ke Indonesia (juga kebebasan untuk tidak beragama atau berkepercayaan)! Selain itu, lihatlah format KTP kita, KTP hanya memuat agama tertentu; padahal agama terus tumbuh dan berkembang, dan religiositas adalah pencapaian terbaik untuk umat manusia; dengan pilihan politis demikian, sudah dapat ditebak bahwa visi kedepan bangsa ini telah salah secara mendasar! Dengan sistem beragama model Indonesia, maka kualitas pemahaman Tuhan beserta kebenaranNya akan menjadi sangat terbatas dan terkotak-kotak, sistem ini mempersulit manusia Indonesia untuk menjadi manusia religius yang bebas merdeka dari ikatan agama yang statis-kaku-beku. Mungkin sistem ini dibuat demi melanggengkan/dominasi kemapanan agama2 asing yang sudah dahuluan masuk Indonesia. Bagi yang ingin mengetahui agama2 baru, silahkan search (cari tahu) agama baru di internet melalui Google dengan cukup mengetikan: new religion. Memenjarakan dan membatasi pengetahuan akan Tuhan hanya sebatas kitab suci yang tipis dan lama (maaf, ditinjau dari sisi usia), dan membatasi/menghalangi manusia untuk mengetahui rahasia Tuhan lebih lanjut-lebih jauh-lebih dalam lagi adalah dosa yang sangat besar yang tidak disadari oleh para pemimpin agama saat ini yang pemikirannya statis-kaku-beku-dogmatis.

Manusia terdiri atas jiwa dan raga, jiwa dapat di golongkan lebih jauh lagi menjadi nalar (rasio/pikiran) dan rohani (hatinurani). Untuk tumbuh dan berkembang, nalar membutuhkan konsumsi antara lain ilmu pengetahuan dan teknologi ; hatinurani membutuhkan antara lain religiositas, keindahan, spiritualitas/agama, kebenaran, dan kejujuran untuk tumbuh dan berkembang. Raga (jasmani) membutuhkan antara lain sandang, pangan, papan, dan kesehatan yang memadai ; bila kebutuhan raga tidak terpenuhi (misal gaji yang tidak manusiawi alias rendah sekali) maka hampir dipastikan kualitas jiwa (rasio dan rohani) menjadi tak terpikirkan alias buruk sekali. Untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang baik dan berkualitas, ketiga unsur pokok manusia ini (jasmani, rohani, dan nalar) harus mendapatkan konsumsi yang seimbang dan memadai ; ketidakseimbangan pemasukan ketiga unsur pokok ini akan menyebabkan kemunduran kualitas manusia, mundurnya kualitas manusia menyebabkan mundurnya kualitas bangsa ! Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aspek religiositas/agama/spiritualitas bukanlah segala-galanya, masih ada unsur pokok lain yang harus dipenuhi ! Dalam konteks Indonesia, memberantas korupsi (dan KKN) hanya sebatas dengan doa, siraman rohani, atau agama, adalah tidak mungkin alias kayal. Masyarakat justru harus waspada, sebab bukankah hal ini hanya untuk menutupi ketidakmampuan para politisi/pemerintah untuk mereformasi birokrasi dan memberantas KKN, sekaligus hanya untuk mengalihkan masalah pokok bangsa ke masalah agama (alias politisasi agama) !

Sebagai penutup, kami mohon agar artikel ini disebar luaskan kepada para: intelektual, aktivis kampus, dosen, mahasiswa, pemuka agama, dan cendekiawan keagamaan di segenap penjuru Nusantara dan ke seantero dunia baik secara: digital (diforwardkan/disimpan di archive suatu situs internet), suara (dibacakan di radio) maupun secara kertas (dicetak/dibukukan), dengan harapan untuk menjadi sumber pembahasan/diskusi yang sehat dan sumber riset mengarah ke doktoral (PhD) demi memicu pengertian yang lebih mendalam tentang kebudayaan, agama, politik dan Tuhan. Uluran tangan untuk lebih menyempurnakan dan atau menterjemahkan artikel ini kedalam bhs. Inggris yang baik/standar agar dapat di publish secara internasional melalui internet sangat kami tunggu2. Mengingat aspek agama dan mistik sangat dominan bagi bangsa Indonesia, maka dengan peningkatan kecerdasan dibidang kebudayaan/agama melalui internet, diharapkan kualitas SDM Indonesia dapat meningkat tajam, sehingga diharapkan negara Indonesia (dan dunia) menjadi lebih aman, tenteram dan sejahtera. Harap dimengerti, artikel semacam ini masih sulit (tidak mungkin) dipublish secara umum lewat mass media cetak di negara yang sebagian besar masyarakatnya masih mabok agama, maka kami mohon sudilah anda berpartisipasi menyebarkan artikel ini demi kemajuan bangsa dan untuk membebaskan Tuhan dari belenggu kebekuan beragama (jadi, samasekali bukan untuk melawan agama ataupun meniadakan agama – jangan salah prasangka). Kritik dan saran anda untuk dapat dipakai memperbaiki/merevisi artikel ini sangat diharapkan. Sekian dan terima kasih.

Forum Religiositas Global

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: